Jalak Budha

Mahar : ?,-


  1. Kode : GKO-245
  2. Dhapur : Jalak Budha
  3. Pamor : Keleng
  4. Tangguh : Singosari (Kabudhan?)  (Abad XI)
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 579/MP.TMII/X/2017
  6. Asal-usul Pusaka : Temuan Sungai Musi
  7. Keterangan lain : sarung kulit domba, keris tindih, langka kolektor item

 

Ulasan :

Ing ngulet dadi satunggal/ warna telu dadi siji/ wus adate jaman Buda/ mengkono yen karya keris/ tan kaya jaman mankin/ dhewe-dhewe yen namasuh/mulane wijang-wijang/ pamor wesi waja pinggir/ nora kaya jaman Buda kaya malela ….

KERIS TEMUAN, dalam konteks ini adalah bukan berasal dari keris ‘proses tanduran’ (biasanya ditanam ke sungai dan dipanen selang beberapa waktu) pada masa-masa akhir ini. Namun benar-benar merupakan penemuan yang memiliki bentuk dan ciri-ciri yang khas. Keris-keris temuan ini adalah keris-keris yang secara tidak sengaja’ ditemukan oleh para penambang pasir tradisional, pembuat bata dan petani, yang kemudian dikoleksi oleh para pecinta keris melalui para hunter atau pengepul keris dari daerah-daerah. Namun tidak dipungkiri memang ada segelintir masyarakat yang mengkhususkan dirinya berburu benda-benda kuno (pemburu harta karun). Sudah menjadi stereotip bahwa keris hasil penemuan-penemuan (sungai, area makam kuno, candi, persawahan dll) yang memiliki bentuk dan ciri yang khas ini oleh penggemar tosan aji digolongkan keris kabudhan untuk yang bentuknya lebar pendek berbadan lebar seperti kadga dan untuk yang bentuknya lebih ramping walaupun masih tampak dempak dan sangkuk (lebih miring) masuk era setelahnya (singosari). Keris-keris yang sudah ditemukan ada yang berpamor, akan tetapi banyak yang keleng (tanpa pamor), besinya berserat berwarna kelabu kehijauan. Yang bentuknya pendek dengan condong leleh (derajad kemiringan) tidak terlalu miring dan memakai sogokan rangkap biasa disebut Jalak Budha, sedangkan yang tanpa sogokan biasa disebut Bethok Budha.

Meski demikian terdapat dua kubu berbeda pandangan mengenai keris kabudhan ini, salah satunya apakah memang dibuat pada era tersebut? Inilah pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Jagad perkerisan selama ini memang masih jauh dari sentuhan penelitian ilmiah – baik dari tinjauan arkeologi, sejarah ataupun metalurgi. Terlebih lagi kawruh padhuwungan yang ada lebih banyak berupa warisan pitutur atau ‘kulak dengar’ dari para ahli atau senior. Menurut pandangan pertama, istilah atau sebutan kabudhan adalah istilah yang merujuk untuk mendeferensiasi bentuk-bentuk keris dengan ciri fisik seperti yang dimaksud di atas – dan belum tentu berkaitan langsung dengan zamannya terlebih karena belum ada data pengidentifikasian secara ilmiah. Apalagi orang Jawa memang akrab menyebut zaman budho sebagai zaman baulah yang tidak terjangkau dengan perkiraan.

Pandangan kedua justru sebaliknya, mereka meyakini isitilah kabudhan berkaitan dengan prototype awal keris dan tentu saja berkaitan dengan agama Hindhu-Budha itu sendiri serta sejarahnya di Nusantara yang kala itu menjadi agama mayoritas. Terlebih misalnya dengan mengkaitkan dengan adanya prasasti Karang Tengah (824 M), prasasti Poh (904 M) menyebut “keris” sebagai bagian dari sesaji atau alat persembahan. Walaupun demikian juga masih bisa menimbulkan pertanyaan karena tidak diketahui apakah bentuk “keris” yang disebut  dalam prasasti tersebut memang mengacu pada keris seperti yang dikenal sekarang.  Juga bila dikaitkan misalnya dengan literatur atau manuskrip lawas, semisal Pustaka Raja Purwa yang ditulis sekitar Abad XII, dan Pratelan Dhuwung Saha Waos yang ditulis Singawijaya pada akhir abad XIX menyebutkan bahwa keris di Jawa pertama kali dibuat pada tahun anembah-warastraning-rat, yakni 230 M, di kerajaan Medang Kamulan oleh Mpu Ramadi pada masa pemerintahan raja Mahadewa Budha berupa dhapur lar ngatap, pasopati dan cundrik.

Kemudian secara kasat mata keris budha memiliki kemiripan bentuk dengan berbagai gambaran belati atau kadga yang terlihat pada relief  candi-candi di Jawa  diantaranya candi panataran dan candi borobudur. Belati atau kadga pada candi-candi ini masih memperlihatkan ciri-ciri senjata India, belum mengalami “pemribumian” (indigenisasi). Meskipun demikian, tidak ada bukti autentik mengenai evolusi perubahan dari belati gaya India menuju keris budha ini. Apapun itu dengan melihat kesederhanaan garap dan keunikan besinya, diyakini keris kabudhan adalah jenis tosan aji yang berasal dari tangguh sepuh sanget.

Dalam evolusi selanjutnya, keris-keris tangguh sepuh sanget (Jenggala, Kediri, Singosari) mulai menemukan bentuknya secara sempurna di masa ini. Bilah keris mulai memanjang, bentuk gonjo mulai melebar, memperjelas asimetri bilah dan berangsur-angsur menggantikan bentuk-bentuk bilah jalak budha dan bethok budha yang lebih sederhana. Walau umumnya memiliki tampilan bilah yang relatif tebal, namun bentuknya mulai meramping dan memanjang.

relief senjata mirip prototype awal keris di berbagai candi di Indonesia

KERIS KABUDHAN SEBAGAI KERIS TINDIH, berasal dari kata ‘tetindhih’ yang menurut kitab Bausastra Jawa versi Poerwadarminta Tahun 1939 berarti lelurah atau pangarêp (penuntun), sedangkan secara arti atau makna harafiah adalah ‘menindih’. Keris tindih dipercaya mempunyai tuah yang baik bagi penggemar tosan aji selain tuah pokok keris juga memberikan tuah untuk menindih atau meredam pengaruh negatif dari benda-benda gaib lain. Tosan aji yang dipercaya masuk dalam kategori tindih kebanyakan keris dhapur lurus seperti; jalak budho, bethok, sombro, semar tinandu, semar betak, tombak banyak angrem dan lain-lain. Keris tindih biasanya adalah keris-keris yang dibuat pada tangguh (jaman) sepuh sanget, seperti jaman kabudhan, singosari, majapahit dan pajajaran. Sedangkan untuk pamor yang masuk kategori tindih antara lain pamor wengkon, rojo gundolo, rojo sulaiman, tambal, dan keleng dan lain sebagainya. Secara mata batin (spiritual) bakat, watak, karakter dan perbawa dari keris-keris tindhih dapat menjadi lelurah atau pamomong bagi tosan aji lainnya.

kondisi bilah saat kotor tampak endapan pasir dan kerikil menempel

TENTANG TANGGUH, dengan ‘label’ keris temuan kurang afdol rasanya jika tidak disertakan foto-foto mengenai kondisi awal  saat masih kotor. Keris jalak budha ini merupakan hasil temuan pada dasar sungai. Bukan hanya di dasarnya melainkan masih tertimbun sekitar 1,5 – 2 m lagi di bawahnya. Tampak pada kondisi kotor, lapisan kerak endapan lumpur, pasir, pecahan batu-batu kecil hingga sisa kayu warangka menempel pada bilah lengkap dengan methuk (kemungkinan terbuat dari bahan perunggu) dan sedikit kayu yang menempel pada pesi yang telah memfosil. Bentuk hulu atau handle keris tampak sederhana, tidak aneh-aneh tapi nyaman untuk digenggam. Kemungkinan pada jamannya secara tektomik dan ergonomik kegunaannya lebih kepada senjata fungsional.

Setelah dibersihkan secara alami dengan hati-hati dan kesabaran ekstra, mulai terlihat besinya yang teroksidasi dan membatu (kembali ke asalnya magnetite/hematite) dengan rabaan halus. Lapisan selubung patinanya pun terlihat alami mengikuti lipatan besi dan pamor. Tingkat kerapatan gonjo dengan bilah yang menjadi salah satu acuan validitas keris-keris temuan tampak sangat rapat, dimana selubung endapan kerak (lumpur, pasir dll), besi dan patina sudah menyatu dan membatu. Berbeda dengan jalak budha  atau bethok yang di ‘treatment” sedemikian rupa melalui ‘kamalan’, jika diraba akan terasa kasar dan nracap (tajam) dengan pori-pori besi yang homogen.

Jalak Budha ini terkesan ramping namun tebal, panjang sekitar sekilan (jarak antara ujung ibu jari dan ujung kelingking jika direntangkan), dengan tantingan sedang. Besinya secara umum homogen seperti besi tunggal, warnanya hitam, tempanya sangat padat, berlapis-lapis. Condong leleh agak tegak mirip belati kadga dan bentuk sogokan yang pendek diyakini merupakan prototype keris pada masa-masa awal. Pilihan warangka dari bahan kulit domba asli terbilang masuk akal (lebih soft) dalam melindungi bilah terhadap gesekan saat dikeluarkan atau dimasukkan daripada warangka kayu yang sifatnya lebih keras.

Menanting sendiri jalak budha ini, sejenak kita terhenyak, pikiran-pikiran mulai menerawang dan berimajinasi membayangkan jaman para kstaria-ksatria menjalani dharma-nya. Jaman dimana lelaki sejati berusaha menemukan takdirnya. Segalanya tidak mudah karena harus diperjuangkan dengan tetesan darah dan keringat hingga air mata. Sungguhlah beruntung kita sebagai anak cucu dapat merawat pusaka lintas  generasi dengan kisah heroiknya tersendiri.

Bagi para pecinta tosan aji rasanya belum lengkap bila belum memiliki keris kabudhan. Alasannya, keris model ini adalah pusaka ‘klangenan‘ wajib yang mesti terpajang di gedong pusaka baik secara kelangkaan (nilai ekonomis dan investasi) juga kepercayaan dari sisi isoteri atau fungsi (keris tindih). Bentuknya yang sederhana, dan besinya yang korosif, sebenarnya bisa dikatakan keris jenis ini tak lagi utuh. Namun fanatisme  pecintanya seperti tak pernah padam, tak lekang jaman, hingga kini terus ada dari waktu ke waktu.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *