Sengkelat

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : ?,- (TERMAHAR) Tn. WP, Pasar Minggu Jakarta Selatan


 
  1. Kode : GKO-234
  2. Dhapur : Sengkelat
  3. Pamor : Beras Wutah
  4. Tangguh : Mataram Abad XVII (HB Awal?)
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 410/MP.TMII/VI/2017
  6. Asal-usul Pusaka : Surakarta, Jawa Tengah
  7. Keterangan Lain : kolektor item

Ulasan :

SENGKELAT – ada yang menyebutnya Sangkelat, adalah salah satu bentuk dhapur luk tiga belas. Ukuran panjang bilahnya sedang, dan memakai ada-ada, sehingga permukaannya nggigir sapi. Sengkelat memakai kembang kacang; ada yang memakai jenggot dan ada yang tidak; lambe gajah-nya hanya satu. Selain itu ricikan lainnya adalah sogokan rangkap ukuran normal, sraweyan, ri pandan, greneng, dan kruwingan. Dhapur Sangkelat mirip dengan keris dhapur Parungsari. Bedanya, pada Sangkelat lambe gajah-nya hanya satu, sedangkan pada Parungsari dua buah. Keris dhapur Sangkelat mudah dijumpai karena banyak jumlahnya dan salah satu dhapur klangenan yang dianggap wajib dimiliki oleh Pecinta Tosan Aji. Selain keris pusaka Kanjeng Kyai Ageng Sengkelat milik Keraton Kasunanan Surakarta, ada beberapa pusaka milik keraton Kasultanan Yogyakarta yang juga berdhapur Sangkelat. Keris-keris itu adalah KK Laken Manik, KK Naga Puspita, KK Tejokusumo.

FILOSOFI, keris sengkelat berluk tiga belas. Angka tiga belas dalam khasanah jawa sebagai las-lasaning urip, akhir kehidupan. Kemana manusia setelah mati? kemana kalau tidak bersatu dengan Allah kembali. Itulah pakem dhapur keris luk yang disebut sebagai “Mustikaning manembah – intisari bersujud”. Ada pemahaman lain bahwa lekuk tiga belas juga mempunyai arti tri welas; welas ing sesami, welas ing sato iwen, lan welas ing tetuwuhan. Semua ini diarahkan kepada keselarasan antara Aku manusia – alam dan lingkungannya serta Allah.

Adapun angka 13 dalam tradisi jawa juga dianggap sebagai angka keramat. Angka 13 kadang oleh sebagian orang adalahi angka pembawa sial, namun demikian angka ini juga dipercaya sebagai penolak bala, angka tiga belas merupakan angka 1 dan angka 3, keduanya merupakan angka ganjil yang penuh makna. Angka 1 merupakan angka pertama, memiliki makna permulaan, tunggal dan ke-Esa-an yang mencerimkan Ketuhanan. Sedangkan angka 3 merupakan angka ganjil yang mencerminkan keseimbangan. Angka 3 adanya manusia yang selalu mempunyai sifat tiga perkara hidup. Misalnya; Ada 3 hal dalam hidup yang tidak bisa kembali, yakni waktu, ucapan dan kesempatan. Maka hendaknya dijaga supaya tidak ada sesal kemudian. Ada 3 hal yang tidak pernah kita tahu, yakni rejeki, umur dan jodoh, mintalah pada Tuhan dan terakhir ada 3 hal dalam hidup yang pasti, adalah tua, sakit dan mati, persiapkanlah dengan sebaik-baiknya karena jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.

TANGGUH MATARAM,  Keris ini termasuk salah satu koleksi GKO yang masih bisa dikatakan sangat wutuh, langgam atau gaya sor-soran yang lebar, gemuk dengan luk tidak rengkol ataupun kembo sepanjang 37,5 cm seperti terpengaruh DNA kartasura (weweg sembodo). Bentuk sekar kacang yang nggelung wayang presisi di tengah gandik dan melingkar sempurna menambah perbawa pusaka. Karakter jalen yang tipis namun runcing menghias bagian gandhik khas keris garap, tidak lurus atau miring melainkan seperti bergelombang, tentu saja memerlukan sentuhan skill tersendiri dari sang Empu. Pola cak-cakan (penerapan) pamor merata sepanjang bilah dengan karakter bergaris-garis tipis, mungkin jika dijamas dan diwarang ulang akan lebih bisa menampilan detil kontras pamor, besi dan bajanya. Bagian gonjo memanjang dengan sedikit melandai di bagian ekornya. Dari segi perabot penunjang warangka gayaman model surakarta terbuat dari kayu timoho dengan pendok bunton lung-lungan sangat pantas untuk mengimbangi kegagahan bilah, terlebih pada hulu menyimpan mistik unyeng (mata kayu) gendhong atau satriyo wibowo (adalah unyeng-unyeng yang terletak ditengah gigir/punggung hulu keris, tuahnya diyakini mempunyai daya magis menambah kewibawaan sekaligus mampu mengangkat derajat keluarga pemiliknya).  Terpasang mendak meniran lawasan bermotif segitiga tumpal seolah pada masanya menggambarkan kerendahan hati pemiliknya sekaligus menegaskan kebesarannya.

PAMOR ASIHAN, bukan nama pola gambaran sebuah pamor, melainkan sebutan bagi keadaan atau kondisi gambaran pamor, yang garis-garisnya menyambung antara yang ada di bilah dan yang ada di bagian gonjo. Jadi, seandainya motif pamor itu sebuah lingkaran seperti pada bilah ini, separoh lingkaran itu tergambar pada permukaan bilah keris, sedangkan separoh sisanya pada bagian gonjo. Penyebutan pamor asihan tidak berdiri sendiri melainkan selalu disebut bersama dengan pamor lain yang lebih dominan. Misalnya pada keris ini yang berpamor beras wutah yang merupakan pamor asihan, penyebutannya menjadi pamor beras wutah asihan. Oleh sebagian pecinta keris, pamor asihan dinilai baik sebagai pendongkrak kharisma. Pamor ini tidak memilih karena cocok dimiliki siapapun. Sebagian pecinta keris yang lain menganggap pamor asihan memiliki tuah yang biasa digunakan untuk memikat lawan jenis.

PAMOR BERAS WUTAH, kemakmuran pada zaman dahulu salah satunya ditandai dengan hasil panen yang berlebih, mengilhami para empu untuk memberi nama Beras Wutah pada pamor keris hasil karyanya. Pamor ini adalah salah satu jenis yang paling banyak dibuat sehingga saat ini adalah jenis pamor yang paling banyak diketemukan. Secara fisik pamor Beras Wutah memperlihatkan motif butiran beras tumpah, adalah pamor tiban dihasilkan oleh penempaan Empu yang dalam proses pembuatannya Ia bekerja sambil berdoa, sabar dan menyerahkan hasil dari tempaannya kepada kehendak Tuhan (ikhlas). Secara filosofis, Beras Wutah menggambarkan kondisi, harapan dan keinginan sang pembuat keris, sehingga Beras Wutah kerap dihubungkan dengan keinginan untuk mendapat hasil panen melimpah, atau kehidupan yang lebih makmur. Di masa sekarang berarti rejeki dan penghasilan yang melimpah.

Ditawarkan sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
 

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *