Sempono Bungkem

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 6,660,000,- (TERMAHAR) Tn. BR Cilegon, Banten


 
  1. Kode : GKO-226
  2. Dhapur : Sempono Bungkem
  3. Pamor : Ngulit Semangka
  4. Tangguh : Pajajaran Abad XII
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 334/MP.TMII/V/2017
  6. Asal-usul Pusaka : Banjarnegara, Jawa Tengah
  7. Keterangan Lain : warangka gayaman banyumasan bancihan

 

Ulasan :

SEMPONO BUNGKEM, atau supana bungkem adalah salah satu bentuk dhapur keris ‘keluarga’ sempana yang agak berbeda dari sempana umumnya karena bukan berluk sembilan melainkan ber-pakem luk tujuh. Dan tampaknya semua literatur yang ada mulai dari Dhapur Damartaji (1998), Ensiklopedi Keris (2004), Buku Keris Jawa Antara Mistik dan Nalar (2006), hingga literatur lama seperti Tjuriga Dhapur (1963) dan Kawruh Empu (1914) menegaskan keris ini berluk tujuh (7). Ricikan keris sempana bungkem memakai kembang kacang, tetapi kembang kacang-nya bungkem, dimana ujungnya rapat menempel pada dinding gandik. Selain itu jika kembang kacangnya pogok pun disebut sempono bungkem juga. Tidak ada ricikan lain, kecuali jalen, dan kadang-kadang memakai tikel alis. Termasuk dhapur keris yang susah ditemui pada saat ini.

macam-macam bentuk kembang kacang dan contoh kembang kacang bungkem

Dhapur sempono bungkem populer  karena keris ini banyak dicari oleh mereka yang berprofesi sebagai hakim, jaksa, pembela, atau penasihat hukum hingga para pejabat pemerintahan karena konon keris dhapur sempono bungkem memiliki tuah yang dapat mempengaruhi lawan bicaranya. Menurut kepercayaan keris sempono bungkem memiliki taksu yang baik dimiliki oleh mereka yang dalam pekerjaan atau profesi sehari-harinya harus sering berdebat atau adu argumen. Bahkan yang lebih ‘nyeleneh‘ lagi keris ini juga tidak hanya menjadi monopoli kaum atau profesi di atas, mereka yang menginginkan keluarga yang ‘samawa’ sering mencari dhapur ini sebagai piandel untuk membungkam ocehan mertua, mulut istri yang cerewet, hingga menjauhkan rasan-rasan (fitnah) orang lain baik di lingkungan kerja maupun kehidupan bertetangga (sosial). Bahkan mereka-mereka yang terjerat dengan masalah “hukum” seringkali membutuhkan dan  percaya akan ‘taksu’ dhapur sempono bungkem sebagai salah satu sarana dukungan non fisik.

Karena kepercayaan akan tuah yang terkandung seperti itu dan akhirnya berhubungan dengan kelangkaan pasar, lalu banyak beredar keris dhapur sempono bungkem tiruan, diantaranya keris sempana berluk sembilan dipotong atau diubah menjadi luk tujuh, kembang kacang yang biasa ditarik ujungnya diubah menjadi bungkem atau dijadikan kembang kacang pogok sekalian.

FILOSOFI, Dalam filosofi jawa luk tujuh disebut “pitu” yang dalam jarwo dosok pitu ini dikaitkan dengan konsep pitulungan. sehingga apapun yang diikatkan dengan luk tujuh mempunyai makna bahwa kita nyuwun pitulungan, atau memohon kepada Tuhan untuk pertolongannya. Dalam tradisi Jawa juga ada ‘momen’ tertentu yang berhubungan dengan angka 7. Sebagai contoh ketika orang hamil sudah usia 7 bulan, maka diadakan selamatan dengan istilah yang disebut “Tingkepan”. Lalu pada bayi yang telah berusia 7 bulan, maka ada prosesi yang dinamakan turun tanah (tedak siten).

Bungkem = Belajar Diam, Ricikan wajib yakni kembang kacang bungkem menjadi ciri atau penanda tersendiri dari dhapur sempono bungkem.  Jika dalam pemahaman umum tuah yang diharapkan keris Sempono Bungkem adalah untuk dapat membungkam (terkuncinya mulut) lawan bicara (baca: didengar), tetapi apabila kita mau lebih bijak untuk mampu berkaca pada diri sendiri (baca: mendengar), ada sebuah piwulang yang dititipkan pada keris dhapur sempono bungkem. Belasan atau puluhan tahun lalu, saat masih balita seringkali orangtua mengajari kita untuk belajar berbicara. Mengeja kata perkata, belajar merangkai kalimat. Semakin banyak kosa kata yang diucapkan oleh anak maka semakin banggalah orangtua. Berbeda ketika kita masih kecil, ketika dewasa ada baiknya kita belajar untuk diam.

Ada pitutur orang-orang tua pada jaman dahulu “Aja mung meneng jen lagi keusahan bae, nglakoni meneng utawa bungkem,” Derita dan kesusahan memang sering dijadikan alasan diam. Manusia bergantung pada hukum sebab-akibat. Diam seharusnya tak sekadar “akibat”. Diam justru membuktikan laku-hidup di segala situasi. Diam untuk menenangkan, membersihkan, membeningkan. Diam juga merupakan bagian penting dari komunikasi, untuk mendengarkan. Keadaan ini juga sekaligus memberi ruang bagi kita untuk berpikir dan menanggapi. Diam mengandung kehendak refleksi. Diam itu olah kesabaran. Diam mengajarkan mawas diri. Diam itu ejawantah diri.   Percayalah; ‘langit tak perlu bersusah payah menjelaskan dirinya tinggi dan sampah tidak perlu berbicara dirinya kotor’.

TANGGUH PAJAJARAN, Tanah Pasundan adalah tanah yang sangat subur, gemah ripah loh jinawi. Dengan kesuburan tanahnya, hampir dipastikan kerajaan-kerajaan yang pernah berdiri di tlatah tersebut mampu melakukan swasembada pangan sendiri. Tipikal masyarakat yang tinggal atau mempunyai daerah yang geografisnya subur, diberkahi banyak gunung, mata air dan sungai, berhawa sejuk hampir dipastikan masyarakatnya adalah mereka yang suka hidup damai. Tanpa harus agresi ke daerah lain, secara normatif masyarakat ini tidak merasa khawatir akan kekurangan kebutuhan dasar; sandang, pangan dan papan, karena karena alam yang ada di sekitar sudah ‘maha’ menyediakan. Kekuatan pertanian menjadi salah satu indikator kuatnya ketahanan suatu negeri. Dengan latar belakang masyarakat agraris yang cinta damai, itulah keris keris pedalaman Barat (Pajajaran, Galuh, Pakuan) tercipta dengan tampilan ‘rasa’ yang khas. Kesederhanan adalah DNA nya, tetapi tidak asal-asalan. Bilahnya cenderung tipis, tapi memiliki keistimewaan. Teknik pattern-welding yang dipakai, lebih tampak istimewa karena ketipisan bilah yang tercipta. Bercampurnya besi, baja dan bahan pamor tetap terlihat kontras dalam bilah yang tebalnya tidak lebih dari 2,5 mm ini.

Keris Pasundan bukanlah tipe keris yang ‘sombong atau pamer’ (gebyar). Ungkapan kesederhanan dalam rasa estetis yang tinggi, termanifestasi juga dari caranya membuat gaya tekukan pada bilah (luk). Keris Pasundan jika tampil dalam dhapur ber-luk, seakan-akan terlihat seperti keris lurus (luk kemba), kebanyakan luk tujuh (7) dan berluk sembilan (9) tidak lebih dari itu. Begitu pula dengan motif pamor yang muncul pada keris Pasundan, jarang sekali kita temukan motif pamor keris Pasundan dengan teknik pamor miring, hampir sebagian besar menggunakan pola teknik pamor mlumah, sehingga terciptalah pamor dengan teknik dasar seperti ngulit semangka atau beras wutah yang terlihat matang dalam hal pattern weld misal; pedaringan kebak, udan mas, bendho segodo, uler lulut dan pulo tirto. Tanah Pasundan juga terkenal sebagai gudangnya para “Bapak atau Ibu Empu di Nusantara”, sebut saja nama Ki Keleng, Ki Kuwung, Ki Loning, Ki Angga, Ki Pagelen, Ki Sikir, Empu Ki Siyung Wanara dan Ni Mbok Sombro. Tak heran dari sudut pandang pecinta Isoteri, keris Pasundan dipercaya memiliki perbawa adem ayem dan keberkahan, karena dibabar dengan ritual dan doa sebagai wujud syukur kepada bumi yang dianggap telah memberikan bermacam sumber kehidupan.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3 Email : admin@griyokulo.com

————————————

3 thoughts on “Sempono Bungkem

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *