Nogo Sosro Kiai Prasojo

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : ?,- (TERMAHAR) Tn. BR Cilegon, Banten


 
  1. Kode : GKO-161
  2. Dhapur : Nogo Sosro (Kiai Prasojo)
  3. Pamor : Kulit Semangka
  4. Tangguh : Madura Sepuh Abad XV
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 284/MP.TMII/V/2016
  6. Asal-usul Pusaka : Rawatan/Warisan Turun Temurun
  7. Keterangan Lain : mendak perak

 

Ulasan :

NOGO SOSRO, adalah salah satu bentuk dhapur keris berluk tiga belas yang paling terkenal di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Bagian gandik keris ini diukir dengan bentuk kepala naga bermahkota, dengan badan naga seolah menggeliat ke arah pucuk bilah mengikuti kelokan luk bilahnya. Ricikan lain yang terdapat pada keris dapur Naga Sasra adalah, kruwingan, greneng, dan ri pandhan.

Keris-keris unggulan sering dilengkapi dengan stilasi naga, karena makhluk ini dianggap sebagai pelindung dan keselamatan bagi pemiliknya dari malapetaka. Adapula yang meyakini, keris Nagasasra memiliki tuah melindungi harta dan kekayaan serta menolak unsur-unsur jahat yang akan mengenai pemilik serta keluarganya. Orang-orang kaya di Kotagede sebelum tahun 1945 hampir semuanya memiliki keris semacam ini.

Di keraton Surakarta tersimpan keris KK Naga Kencana berluk 9 dan keris KK Naga Kasapta. Begitu juga dengan kraton Yogyakarta yang bangunannya sarat memiliki hiasan naga, juga memiliki pusaka dengan ganan Naga, diantaranya KK Gandawisa dhapur Pandhawa dengan Naga, KK Nagapuspita dhapur sengkelat dengan Naga dan KK Nagarangsang dhapur Jalak dengan Naga.

Keris Naga Sasra kadang kala dijumpai dihias dengan tinatah emas, sehingga penampilannya berkesan indah, gagah dan berwibawa. Sebagian pemilik keris dhapur Naga Sasra menaruh butiran emas atau batu mulia pada moncong naga yang menganga. Konon, butiran emas atau batu mulia itu berfungsi untuk meredam sifat “galak” dan “panas” dari keris itu. Konon pula, bila situasi gawat, butiran emas atau berlian yang menyumpal di mulut naga itu dicopot, agar tuah keris itu kembali garang dan menakutkan.

FILOSOFI, Keris Naga dalam khazanah kebudayaan Jawa dianggap identik dengan ajaran spiritualisme Ketuhanan, ajaran kepemimpinan serta representasi kekuasaan dan pemerintahan. Untuk maksud itu wujud Naga umumnya dilengkapi dengan mahkota, sumping, kalung layaknya seorang Raja dalam pakaian kebesarannya.

filosofi dhapur naga

Motif Naga juga dipercaya sebagai lambang panjang umur dikarenakan kemampuannya berganti kulit (mlungsungi), selain itu juga mampu hidup di segala tempat: di dasar bumi (naga bumi), di langit (naga langit) atau di dasar laut (naga antaboga). Tidak mengherankan bila kemudian Naga dikonotasikan sebagai dewa penguasa bumi, penguasa laut, atau penguasa langit. Dalam konsep Jawa Ratu dipercaya sebagai titisan Dewa atau Wali Allah pranatagama di dunia. Peran itu dilambangkan dengan mahkotanya. Bentuk visual dari mahkota secara denotasi mahkota adalah merupakan simbol tradisional dalam bentuk tutup kepala yang dikenakan oleh raja, ratu atau dewa. Secara konotasinya, mahkota merupakan lambang kekuasaaan, keabadian, kejayaan, legitimasi dan kemakmuran. Jika mahkota tersebut disematkan pada seseorang berarti orang tersebut memiliki kekuasaan, tahta atau kedudukan, pemimpin. Ada dua macam bentuk, yaitu yang berbentuk seperti mahkota topong yang dikenakan tokoh wayang Adipati Karna, dan yang berbentuk seperti mahkota Prabu Kresna. Mahkota mencerminkan konsep astabrata. Asta Brata berisi delapan ajaran utama tentang kepemimpinan, dimana delapan ajaran tersebut mengambil dari sifat-sifat alam raya yang terdiri dari air (Tirta), Bintang (Kartika), Matahari (Surya), Rembulan (Candra), Angin (Samirana), Bumi ( Kisma), Laut (Baruna) dan Api (Agni).

Kepala Naga dibuat sedikit mendongak. Posisi ini diintepretasikan sebagai sikap seorang pemimpin yang senantiasa menunjukkan kewibawan dan kepercayaan diri. Sadar dengan tanggung jawabnya sebagai pamomong, dan senantiasa menyandarkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu sikap mendongak menandakan sikap seorang pemimpin yang tegas dalam bersikap tanpa pilih kasih. Sikap kepemimpinan pada Keris Naga juga tersirat dari bentuk mata naga yang tampak bulat menonjol dengan tatapan lurus ke depan. Bentuk mata seperti ini dapat diintepretasikan sebagai sikap seorang pemimpin harus tajam mata hatinya (lantip rasane), tajam pikirannya (lantip pangraitane) dan juga tajam penglihatannya (lantip paningale). Apabila mata hati dan pikiran seorang pemimpin itu tajam maka dapat menuntun dalam melihat segala sesuatu, dengan demikian ia tidak mudah terhasut dengan penglihatan yang kasat mata saja, namun juga mampu melihat yang tak kasat mata sekalipun. Seorang pemimpin harus mampu menyelami segala hal dan persoalan dengan cermat melihat dari segala sisi sehingga tidak akan salah dalam mengambil kebijakan.

Seorang pemimpin selain harus memiliki penglihatan yang tajam juga harus memiliki pendengaran yang peka pula. Bentuk visual pada naga nusantara ini juga menggunakan ‘sumping’ atau disebut sebagai hiasan di telingga. Bentuk dari sumping ini seperti telinga manusia, yang berfungsi sebagai indra pendengar. Makna konotatif dari sumping ini dimaknai sebagai seorang pemimpin harus memiliki ketajaman pendengaran dan memilah dari apa yang ia dengar. Ketajaman pendengaran ini akan menuntun seorang Pemimpin untuk dekat dengan Tuhan, dekat dengan rakyat dan dekat dengan hati nuraninya sendiri. Kemampuan menangkap bisikan-bisikan yang “halus” sekalipun tersirat dari kelengkapan hiasan telinga yang berupa sumping. Sehingga sumping ini tidak hanya digunakan sebagai penghias telinga saja namun pencitraan dari ketajaman pendengaran seorang raja dalam memimpin.

Seorang Pemimpin selain memiliki ketajaman penglihatan dan pendengaran, juga harus menjaga tutur katanya (sabda). Kehati-hatian dalam menjaga ucapan tersirat dalam bentuk mulut naga yang membuka (menyeringai, kadang kala dijumpai dengan menggigit emas atau batu mulia). Maknanya adalah sebagai seorang Pemimpin senantiasa dapat bersikap “Sabdo pandito ratu tan keno wola-wali”, artinya perkataan seorang Pemimpin tidak boleh berubah-rubah, apa yang sudah diucapkan tidak boleh ditarik kembali (sekali ucap). Untuk itu segala sesuatu harus dipikirkan dengan seksama.

Sedangkan Kalung yang dikenakan, berbentuk mirip sekar kacang dengan posisi terbalik mengarah ke atas adalah sebuah pengingat (pameling) bahwa segala sesuatu yang kita miliki dan ada di dunia, baik harta benda maupun kekuasaan adalah bersifat sementara, titipan dari Yang Di Atas yang bisa diambil kapanpun. Oleh karena itu, janganlah kita mengejar hal-hal duniawi yang fana tersebut, dengan mempersiapkan “bekal” apa yang akan kita bawa nanti ke akhirat.

Gambaran Pemimpin yang besar tersirat dari bentuk badan naga. Badan naga tampak prasojo (tidak gemuk namun juga tidak kurus). Badan Naga tampak meliuk-liuk ke atas mengikuti bentuk luk merupakan usaha manusia untuk mencapai kasampurnaning urip (kesempurnaan hidup), proses laku menuju manunggaling kawula Gusti. Dalam konsep kejawen adalah hubungan manusia dengan Tuhannya secara langsung dan pribadi dengan rasa dan bathin. Badan Naga dapat dimaknai sebagai gentur tapane (giat bertapa). Bentuk badan yang ramping dan meliku-liuk diartikan sebagai seseorang yang gesit, cepat bertindak. Jika dihubungkan dengan seorang pemimpin maka pemimpin bersifat gesit, tanggap, dan cepat mengambil keputusan.

Bagian badan naga yang memiliki makna menarik, dalam hubungannya dengan sifat kepemimpinan adalah bagian dada Naga. Dada Naga tampak membusung mencerminkan sikap seorang pemimpin yang berwibawa, tangguh, teguh dan memiliki sifat keterbukaan.

Ornamen juga merupakan sebuah ideologi yang berkaitan dengan hal- hal bersifat mitos. Mitos ini secara tidak langsung digunakan manusia dalam berkomunikasi. Mitos merupakan sesuatu yang bersifat sakral, artinya kejadian yang diluar pemikiran manusia. Ornamen juga dapat disebut sebagai alat komunikasi tradisional yang tidak langsung sebagai salah satu cara dalam berhubungan dengan sesama maupun dengan penguasa alam semesta.

Seorang Pemimpin yang bijaksana harus mampu meredam sikap dan sifat tercela adigang adigung adiguno. Pengendalian sikap adigang adigung adiguno pada keris berdhapur Naga Sasra tampak dalam motif pendukung berupa  motif kijang yang terdapat pada bungkulan sor-soran dengan posisi duduk (njerum) dapat ditafsirkan sebagai sikap tapa laku untuk meredam dan mengendalikan sikap dan watak adigang, adigung, adiguna. Idiom dalam bahasa Jawa tentang kebanggaan dan kesombongan yang menjadikannya sifat takabur. Adigang memiliki arti membanggakan kekuatan atau kekuasaan. Adigung memiliki arti membanggakan kebesaran termasuk didalamnya kekayaan dan harta benda. Dan Adiguna memiliki arti membanggakan kepandaian, kecerdasan dan kecerdikan.

Jumlah luk 13 pada keris dhapur Naga Sasra dapat dimaknai sebagai perwujudan pusaka keramat dan wingit serta mampu menambah kewibawaan pemiliknya sekaligus tolak bala. Adapun angka 13 dalam tradisi jawa selalu dianggap angka keramat. Angka 13 merupakan angka 1 dan angka 3, keduanya merupakan angka yang penuh makna. Angka 1 merupakan angka pertama setelah angka 0, memiliki makna pertama, permulaan, tunggal dan ke-Esaan yang berke-Tuhanan. Sedangkan angka 3 adalah angka ganjil yang mencerminkan keseimbangan atau segitiga melambangkan ketauhidan.

Dialih-rawatkan (dimaharkan)  sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
 

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *