Keris Raja Sulaiman

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : ?,- (TERMAHAR) Tn. BR Cilegon, Banten



  1. Kode : GKO-221
  2. Dhapur : Tilam Sari
  3. Pamor : Dwi Warno (Raja Sulaeman + Beras Wutah)
  4. Tangguh : Mataram Abad XV
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 212/MP.TMII/III/2017
  6. Asal-usul Pusaka : Mojokerto, Jawa Timur
  7. Keterangan Lain : kolektor item, warangka baru, ada korosi di bagian atas bilah

 

Ulasan :

TILAM SARI, keris Angun-angun Dhampar atau yang lebih dikenal dengan dhapur Tilam Sari merupakan salah satu dhapur keris yang cukup populer di Nusantara. Salah satunya karena merupakan dhapur keris yang dapat dikenakan oleh siapapun baik dari golongan masyarakat biasa hingga para bangsawan kerajaan. Keris Dhampar atau Tilam Sari hampir dimiliki setiap orang pada zaman dahulu, bila seseorang memiliki satu buah keris maka rata-rata yang dimiliki berupa keris dengan ricikan sederhana (Tilam/Brojol), dan apabila seseorang memiliki beberapa keris, maka salah satunya dapat dipastikan terdapat keris Dhampar atau Tilam Sari. Nilai simbolis yang terdapat pada keris Dhampar atau Tilam Sari agaknya yang mendorong hampir semua orang ingin memilikinya.

Pada masa jaman kerajaan-kerajaan, Angun-angun Dhampar atau dhapur Tilam Sari tertera dalam manuskrip Dhapur Dhuwung Saha Waos. Manuskrip tersebut menjelaskan bahwa Dhapur Tilam Sari diciptakan oleh Mpu Handaya Sankala pada tahun 1186 Saka pada era pemerintahan Nata Parabu Banjaransari. Dhampar (kencono) memiliki pengertian tempat duduk raja (singgasana) yang bersih mencerminkan kesucian. Dhampar (Kencono) merupakan bentuk simbolik dalam membangun status sosial dan citra. Simbol ini muncul dari dalam lingkungan keraton yang cenderung masih dijadikan patron bagi masyarakat Jawa. Tradisi duduk dalam kehidupan masyarakat Nusantara cenderung dilakukan di lantai. Kegiatan duduk berkaitan erat dengan hierarki sosial, sebab duduk di atas kursi/dhampar hanya dilakukan oleh orang berstatus sosial lebih tinggi yakni para bangsawan atau raja. Dhampar ditafsirkan sebagai fondasi kokoh dimana berdiri sesuatu yang dapat menahan dan menopangnya, atau sebagai tempat yang teramat tinggi, mulia, dan di atasnya hanya ada Tuhan. Bentuk Dhampar mencerminkan sikap dan sifat seorang Pemimpin, dimana Dhampar  termasuk kategori kursi yang diwujudkan tanpa sandaran ta­ngan dan sandaran punggung yang berasal dari bentuk dhingklik (kursi tanpa sandaran). Makna simboliknya adalah bahwa seorang Pemimpin adalah sebagai hamba Tuhan, tidak bersandar kepada siapapun kecuali pada Tuhan.

Keris Angun-angun Dampar atau Tilam Sari dipercaya memliki taksu yang membawa simbol kemapanan, kesejahteran, ketentraman, kenyamanan, ketenangan dalam hidup berumah tangga dan bersosial. Keris ini pada umumnya selalu dimiliki oleh mereka yang telah berumah tangga (paruh baya). Pada umumnya keris Dampar atau Tilam Sari dibuat dengan sederhana dan juga menerapkan pola pamor dengan motif yang sederhana pula.

PAMOR RAJA SULAIMAN, Mpu Djeno menyebutnya dengan pamor Lintang Purbo (Bintang Permulaan/Kuno). Tapi taukah Panjenenengan sekalian? Jika kita membuka literatur lama mengenai pamor dari babon asli Surakarta, ternyata ditemukan hal yang cukup mengagetkan. Dimana dituliskan bahwa pamor yang paling mahal harganya adalah Raja Sulaiman dan satu lagi adalah pamor Gaibul guyup bukan pamor miring seperti yang kita kenal selama ini, semisal blarak sineret, ron genduru, sekar mayang dan pamor sejenisnya. Dalam literatur tersebut ditulis dengan keterangan yang apabila diterjemahkan dalam bahasa indonesia kurang lebihnya sebagai berikut : Jika ada pamor yang bentuknya seperti (bintang) ini dinamakan pamor Raja Sulaeman, harganya 100 negara, siapa yang menyimpan atau memakainya semua keinginannya akan tercapai, dan bisa dijadikan tumbal sakit penyakit, jika dibawa untuk berperang bisa melindungi (marabahaya) pemakainya, terlebih lagi ditakuti oleh golongan setan dan lelembut, juga tidak boleh disakiti (jahat) orang lain (karena karma akan berbalik dibalas Yang Kuasa).

motif pamor menurut Empu Djeno Harumbrodjo, majalah Citra Yogya No. 20-21/Th IV Maret-Juni 1991

pamor duwung, babon asli saking surakarta stoomdrukkerij de bliksem 1937

SIMBOL RAJA SULAIMAN DALAM PEMAKNAAN SOSIO-RELIGI, bintang dimaksudkan sebagai sebuah cahaya yang mendatangkan terang, mengandung makna nur cahyo, atau dalam bahasa Qur’an Nuurun ‘ala nurrin, Cahaya di atas Cahaya, Nur yang hidup dan menghidupkan. Maksudnya : Nur yang di Agungkan di alam semesta ini, yang hidup dan mawujud pada tiap-tiap yang hidup di Alam semesta. Tanpa Nur Allah, berarti hati manusia menjadi gelap gulita tanpa iman dan jauh dari hidayah. Nur adalah tempat kembali semua makhluk dan dengan kembali kepada Penciptanya, manusia telah bersatu dengan Tuhannya (Manunggaling Kawula Gusti).

Sedangkan bentuk bintangnya yang memiliki sudut lima, yang mirip dengan irisan buah belimbing (seperti dalam tembang lir-ilir yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga), ibarat belimbing dengan lima sisi berbicara sebagai simbol dari lima rukun Islam dan sholat lima waktu yang merupakan dasar dari ajaran Islam, atau manifestasi Panca Maha Bhuta yang dikenal dalam ajaran Hindu, yakni lima elemen dasar yang membentuk alam semesta (bhuwana agung) dan badan manusia (bhuwana alit). Jika seseorang mampu menghidupkan keberadaan Panca Maha Bhuta dalam dirinya adalah; Akasa (wadah/ruang), dimana empat unsur alam semesta yaitu Pertiwi (Tanah), Apah (Air), Teja (Api) dan Bayu (Angin) berkolaborasi dan bersinergi. Maka seseorang akan hidup dengan prinsip-prinsip; pantang menyerah (Pertiwi), namun tetap fleksibel dan luwes dalam berinteraksi (Apah), memiliki semangat, gairah serta wawasan yang luas (Teja), memiliki rasa hormat sekaligus harga diri (Bayu). Dialah manusia sejati, yang menyadari dirinya tersusun dari Panca Maha Bhuta, mampu menguasai dan mengendalikan Panca Maha Bhuta. Dialah manusia yang pantas disebut sebagai ‘AVATAR’, si penguasa dan pengendali empat unsur alam semesta.

VERSI LAIN, Tetapi jika kita membuka referensi buku pamor keris atau ensiklopedi keris karangan Alm Bambang Harsrinuksmo, terdapat perbedaan mengenai bentuk bintang dalam pamor Rojo Suleman, dimana disebutkan bentuk gambaran pamor Rojo Suleman sama benar dengan bintang Daud lambang orang Yahudi yang kini menjadi bendera Israel, yakni berupa bintang sudut enam (hexagram) sedangkan pada kitab atau babon lawas asli Surakarta berupa pentagram atau bintang sudut lima. Sedangkan persamaan-persamaannya adalah terletak tepat di tengah sor-soran, jaraknya dari batas gonjo sekitar 1 sampa 2,5 cm. Dipercaya sebagai “Rajanya segala pamor”, yang tuahnya merupakan kumpulan dari hal-hal yang baik atau positif, menyangkut soal penangkal bahaya, kewibawaan dan kekuasaan. Namun pamor ini, punya sifat “memilih”. Tidak semua orang sanggup kalungguhan (ketempatan) keris dengan pamor seperti ini. Dari segi teknik pembuatan, pamor ini termasuk pamor titipan atau ceblokan yang disusulkan setelah pembuatan keris selesai. Walaupun cukup terkenal, pamor ini termasuk jarang dijumpai. Salah satu pusaka keraton Ngayogyakarta yang menggunakan Rajah Sulaiman adalah keris Kangjeng Kiyahi Bima Renu yang dulu dimiliki adik Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

pamor keris, bambang harsrinuksmo 1986 & 1995

Material besi pusaka ini jika dilihat dalam terang cahaya, seolah besi yang ada berkelip berwarna agak kekuningan, orang menyebutnya besi malela kendaga. Kristal-kristal yang berkerlip tersebut akan tampak lebih terang pada saat bilah keris itu dalam keadaan putih bersih. Sebagian pecinta keris membedakan Besi Malela menjadi Pasir Malela dan Malela Kendaga.  Pasir Malela kerlipnya membiaskan warna putih keperakan sedangkan besi Malela Kendaga berwarna kuning emas. Keris dengan besi ini biasanya keris sepuh karena pengolahan bahan pasir besi menjadi besi masih menyisakan unsur pengotor logam lainnya. Konon jenis besi ini dulunya sangat disukai para Raja karena keampuhannya, siapapun yang terkena akan luntur kesaktiannya.

Selanjutnya jika kita mengamati secara visual kemudian dilakukan perabaan pada bagian ‘pamor titipan‘ Rajah Sulaimannya, terlihat besi dan pamor pada rajahnya tampak berbeda bahan material dari wilahnya. Dari teknik pembuatannya seolah tampak seperti di-gedrig dan dilubangi, padahal tidak, karena jika kita amati secara lebih detail posisi sudut bintang yang ada pada bagian depan dengan belakang tidak sama sudut kemiringannya. Asumsi yang ada menjadi pola pamor dibuat satu persatu (tidak dibuat tembus). Dan lebih ‘greget’-nya lagi jika diraba dengan tangan, pamor tersebut seolah tidak terasa disusulkan sebagai pamor tambal, terasa halus dan sangat menyatu dengan bilah.

Sisi menarik  lainnya yakni motif pelet kayu timoho pada warangka ini, pada bagian depan seolah mirip ombak yang menggulung ganas di lautan yang mampu menggambarkan betapa kerasnya alam, dan tepat dia atas gulungan ombak tersebut terdapat bulatan kecil seperti mata. Kemudian jika kita tengok pada sisi sebaliknya (belakang) tampak gulungan ombak yang ganas itu sudah mulai mereda (tenang). Sejatinya semua ‘Badai Pasti Akan Berlalu’, sekeras apapun kehidupan menggulungmu, berusaha menenggelamkanmu, ingatlah: ‘Gusti Allah Mboten Sare’.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *