Tilam Upih

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 2,950,000,- (TERMAHAR) Tn. SW, Sidoarjo


 warangka-tanggalan wulan-tumangal
  1. Kode : GKO-202
  2. Dhapur : Tilam Upih
  3. Pamor : Kulit Semangka Asihan
  4. Tangguh : Tuban Mataram (Bagelen?) Abad XVI
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 663/MP.TMII/XII/2016
  6. Asal-usul Pusaka : Gombong, Jawa Tengah
  7. Keterangan Lain : warangka wulan tumanggal lamen, garan cirebon primitif terbuat dari akar? (retak-retak alami), baru selesai dijamas (diwarangi)

foto-keris-mataram-bagelen sertifikasi-mataram-bagelen

Ulasan :

TILAM UPIH, di daerah lain ada yang menyebutnya keris Tilam Petak atau Tilam Putih, adalah nama dhapur keris lurus yang sederhana. Gandik-nya polos, hanya mempunyai dua ricikan yakni tikel alis dan pejetan. Karena model ricikannya relatif sederhana tidak neko-neko, menjadikannya lebih banyak orang yang bersedia memakainya hingga sekarang relatif lebih mudah diketemukan dan banyak tersebar di dalam masyarakat dengan kata lain dhapur cukup populer atau terkenal. Di dalam gedong pusaka keraton Yogyakarta pun sedikitnya ada tiga keris pusaka yang ber-dhapur Tilam Upih, yaitu KK Pulanggeni, KK Sirap, dan KK Sri Sadono.

FILOSOFI, menurut ilmu simbol perkerisan dari Sunan Kalijaga yang ditulis di dalam Serat Centhini, Tilam Upih adalah lambang dari cinta dan kelembutan wanita. Mengandung makna pasemon jika seseorang telah mencintai keris sikapnya bagaikan orang yang mencintai  seorang perempuan yang menjadi garwa (istrinya), dimana ingatan pikirnya selalu tertuju kepadanya. Pada sisi lain, ada sebuah komitmen atau pengorbanan (waktu, tenaga, biaya) untuk merawatnya dengan baik.

Keris ini juga dianggap baik dimiliki bagi mereka yang sudah berumah tangga, akan cocok bagi siapapun, setia mendampingi berjuang dari awal, dalam suka maupun duka. Yang diumpamakan mempunyai karakter sebagai estri , yang penuh cinta dan kasih sayang (ngademke). Seperti layaknya seorang wanita, cantik, anggun, luwes, penuh kasih sayang mampu meredam keangkeran, ego, emosi /kekerasan namun tetap kuat dan landhep

mataram-bagelen pamor-bagelen

tangguh-mataram-bagelen pamor-tangguh-bagelen

TANGGUH MATARAM BAGELEN, Sebagai informasi, Bagelen adalah sebuah wilayah yang saat ini masuk dalam wilayah administratif Purworejo, Kebumen, sebagian Wonosobo dan Kutoarjo. Wilayah di sebelah barat Ibukota Ngayogyakarta ini adalah sebuah wilayah luas yang luas tinggi peradabannya. Lembah subur daerah Bagelen adalah penyangga utama dari produksi beras di Mataram.

Bagelen sejak jaman Sultan Agung merupakan wilayah tempat pengerahan pasukan infanteri vang handal, banyak prajurit tangguh dari wilayah ini. Urat nadi wilayah Bagelen, yaitu Sungai Bagawanta, pada jaman perlawanan pangeran Diponegoro, adalah salah satu basis perlawanan dan medan tempur Pangeran Diponegoro. Banyak prajurit Diponegoro dari Bagelen. Bahkan, di sini pulalah tentara Belanda banyak vang terbunuh. Di daerah yang aman ini, mesiu dan aneka senjata dapat dibuat, termasuk keris dan segala macam tosan aji. Keris yang berasal dari wilayan ini bercirikan antara lain gonjo-nya yang agak tinggi dan tebal sengoh ambathok mengkurep, gandik lebar tapi pendek, bilahnya agak besar dan nglimpa sepintas keris Begelen meniru Tangguh Mataram dan Pamornya mubyar nyalaka (putih keperakan). Keris Baggelen kurang memperhatikan estetika Pamor. Bahan pamor yang dipakai tidaklah sebagus atau seroyal bahan pamor Mataram, atau bahkan seringkali diketemukan pamor yang keluar merupakan hasil wasuhan besi dimana gradasi warna antara besi dan pamor tidak begitu kontras atau biasa disebut nyanak. Dalam rasa tantingan Keris dari Bagelen akan terasa lebih berat dibandingkan dengan keris Mataram lainnya karena hampir dipastikan memiliki karakteristik bahan yang khas, yaitu memiliki kandungan baja yang banyak. Jika keris luk tidak serengkol keris Mataram, bahkan hampir menyerupai keris luk yang keluar dari wilayah Segaluh tetapi pada umumnya keris dari wilayah ini berbentuk keris lurus.

Berbagai faktor telah memberi tanda pada keris tangguh Bagelen. Kesederhanaan, sebagai ciri khas Mataram Bagelen, seperti menyembunyikan sesuatu yang luar biasa, karena dibalik kesederhanaan selalu ada kekuatan lain. Dan kekuatan tersebut adalah keperkasaannya.

pamor-asihan

PAMOR KULIT SEMANGKA ASIHAN, Pamor keris Tuban lebih didominasi oleh pamor-pamor dasar, seperti kulit semangka, beras wutah hingga pamor-pamor yang melambangkan kemakmuran seperti udan emas. Yang menjadikan lebih spesial dari Tilam Upih ini adalah pamor Asihan, bentuknya sama betul dengan pamor Ngulit Semangka, hanya letaknya pamor itu menyambung antara yang di bagian bilah dengan yang di bagian ganja. Karena tuahnya terutama adalah untuk memudahkan dan memperlancar pergaulan, termasuk lawan jenis, yang umumnya disebut “pengasihan“, maka pamor yang begini disebut pamor Asihan. Penyebutannya secara lengkap adalah Pamor Kulit Semangka Asihan. Bagi yang percaya isoteri, ini membuat tuah dari pamor semakin kuat.

warangka-wulan-tumangga-cirebon wuwungan-gonjo

WARANGKA WULAN TUMANGGAL, seiring dengan berkembangnya agama Islam juga turut mewarnai revolusi kebudayaan di Jawa pasca Majapahit. Sebagaimana diketahui bahwa beberapa ulama yang tergabung dengan Dewan Wali (Songo) diantaranya berasal dari Timur Tengah. Pengaruh Islam dan budaya Timur Tengah ini nampak jelas dari pemakaian simbol Islam dalam beberapa hal, diantara simbol tersebut adalah bulan sabit dan bintang.

Salah satu contoh dari pemakaian simbol bulan sabit ini terjadi pada metamorfosis bentuk warangka keris. Dalam menampilkan eksistensinya, sebagai sebuah strategi kebudayaan, Islam dan budaya Timur Tengah melakukan penetrasi kebudayaan melalui budaya keris. Bentuk warangka keris yang menyerupai bentuk bulan sabit  ini di Jawa dikenal sebagai warangka Wulan Tumanggal. Bentuknya yang khas memberikan penilaian bahwa bentuk warangka ini lahir seiring dengan berkembangnya agama Islam di nusantara. Tetapi kemudian di Jawa sendiri, sejak palihan nagari mataram terakhir ( terpecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta), bentuk warangka wulan tumanggal ini mulai ditinggalkan tak heran saat ini menjadi susah diketemukan.

 Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *