Sengkelat

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 3,500,000, – (TERMAHAR) Tn. A  Kebayoran Lama, Jakarta Selatan


 gayaman-yogya-timoho-kuno gayaman-timoho-lawasan
  1. Kode : GKO-203
  2. Dhapur : Sengkelat
  3. Pamor : Beras Wutah Asihan
  4. Tangguh : Mataram Abad XVI
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 694/MP.TMII/XII/2016
  6. Asal-usul Pusaka : Cianjur, Jawa Barat
  7. Keterangan Lain : warangan baru

foto-sengkelat surat-keterangan-keris

Ulasan :

Karena warnanya merah seperti sengkelat, maka keris ini saya namakan Kiai Sengkelat. Tetap, sebenarnya keris ini kurang cocok untuk dipakai oleh seorang Santri. Ia lebih pantas dipakai oleh seorang Raja yang menguasai seluruh Pulau Jawa. Oleh karen aitu Ki Supa, simpanlah keris ini baik-baik, mungkin di kemudian hari nanti keturunan kita yang akan menjadi Raja.

SENGKELAT dan POLITIK, Menurut kepercayaan orang Jawa dan masih lestari mengakar hingga kini, seorang pemimpin tidak akan kuat lama menduduki kursinya bila tanpa didukung piandel yang cukup. Sejauh mana kebenaran dari kepercayaan ini? Bagi kebanyakan masyarakat di Indonesia, khususnya Jawa, hal ini bukan sesuatu yang saru lagi. Kepercayaan yang tidak diketahui sejak kapan bermula itu dianggap suatu keharusan yang tidak tertulis dan menjadi rahasia umum bagi setiap pemimpin bila tak ingin tahtanya segera jatuh. Bukan hanya cerita para raja dan sultan di masa lalu, tetapi para elit politik sekarang pun masih banyak yang mempercayai kekuatan atau tuah pusaka-pusaka sakti dengan berbagai bentuknya.

Banyak yang meyakini, salah satu pusaka yang cocok mendampingi dan bisa membantu kelanggengan kekuasaan adalah Keris berdhapur Sengkelat. Tak heran, meski zaman digital dimana semua ada dalam satu genggaman jari, masih  ba­nyak tokoh politik yang datang ke orang pintar demi memburu pusaka ini dengan biaya, syarat, dan resiko apapun. Keris Sengkelat memang memiliki latar belakang politik yang kental, terutama dalam hubungannya dengan pudarnya sang Surya Majapahit di masa silam. Dalam riwayatnya, ada 2 (dua) versi menceritakan; versi pertama bahwa keris dhapur Sengkelat dipesan kepada Mpu Supo oleh Sunan Ampel dan versi kedua dipesan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Konon bahan untuk membuat Kyai Sengkelat adalah cis, sebuah besi runcing untuk menggiring onta milik Nabi. Namun sang mpu merasa sayang jika besi tosan aji ini dijadikan pedang (versi kedua = pangot sejenis pisau), maka dibuatlah menjadi sebilah keris luk tiga belas. Sang Sunan menjadi kecewa karena tidak sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Menurutnya, keris merupakan budaya Jawa yang berbau Hindu, seharusnya besi itu dijadikan pedang yang lebih cocok dengan budaya Arab, tempat asal agama Islam. Maka oleh Sang Sunan disarankan agar Kyai Sengkelat diserahkan kepada Prabu Brawijaya V. Ketika Prabu Brawijaya V menerima keris tersebut, sang Prabu menjadi sangat kagum akan keindahan keris Kyai Sengkelat. Dan akhirnya keris tersebut menjadi salah satu piyandel kerajaan yang mampu mengalahkan keris condong campur sekaligus menyingkirkan pagebluk yang melanda nagari.

TANGGUH MATARAM, meski terkesan tampil sederhana keris Sengkelat ini bisa memberikan kesan dhuwung sekeca atau sae. Tingkatan keris, tombak, pedang secara fisik lahiriah (sekeca atau sae) meski bukan dibuat oleh Empu Dalem Keraton (empu luar) tetapi pemilihan material logam dan keahlian sang Empu juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Tarikan luknya terasa semakin rapat ke atas, dengan condong leleh yang agak tegak seolah menggambarkan sebuah kepercayaan diri dari sang pemilik. Gandik yang pendek miring amboto rubuh dengan penampang gonjo yang ambatok mengkurep sedikit menungkak dengan bagian ekornya yang papak seperti menggambarkan sebuah pribadi yang mampu mempertahankan nilai atau budaya lama dan menerima pemikiran-pemikiran baru seiring perkembangan jaman. Skill sang Empu diwujudkan dalam torehan sogokan rangkapnya yang lebar kandas waja imbang di sisi depan maupun belakang dengan bungkul dan janur tipis membelah. Teknik seperti ini banyak diadopsi kemudian pada keris tangguh PB Surakarta. Pamornya pun tampak pandes merata di seluruh bagian wilah tidak ada yang nerjang landhep. Jika dirasa-rasa ada pengaruh blak Guling Mataram.

deder-yogya-trembalu keris-mataram

trembalu-nginden ciri-ekris-mataram

Korosi alami di sepanjang kelok bilah masih bisa dikatakan wajar untuk sebuah keris sepuh, tidak ada bagian yang digesud atau dilakukan rekayasa untuk mempercantik tampilan keris. Hanya saja pada bagian pesi sudah disrumbung lawasan dan lebih pendek daripada panjang pesi normal. Kondisi yang ada juga dibiarkan alami, meski bisa dilakukan odot pesi (penarikan batang pesi supaya lebih panjang), tetapi lebih baik dibiarkan seperti apa adanya bukan ada apanya. Sandangan (warangka) yang menyertainya pun sudah sangat layak dan gagah menyanding. Gayaman kayu timoho lawasan masih alami tanpa ditemui adanya tambalan, pendok lawasannya pun masih sangat tebal, jika diketuk dengan jari akan sangat berbeda bunyinya dengan pendok-pendok baru menandakan perbedaan kualitas maupun bahan. Deder yogya kayu trembalo dengan serat nginden menambah perbawa-nya sendiri.

gayaman-trembalo-nginden deder-yogya-nginden

PAMOR BERAS WUTAH, letak kerajaan Mataram yang lebih ke pedalaman menjadikannya berkembang sebagai kerajaan agraris yang menekankan dan mengandalkan bidang pertanian. Jejak-jejak kejayaan agraris Mataram seolah banyak ditorehkan melalui pamor pada persenjataannya (tosan aji). Pamor beras tumpah tidak hanya menggambarkan kehidupan masyarakat agraris yang gemah ripah loh jinawi (kekayaan alam yang berlimpah), toto tentrem kerto raharjo (keadaan yang damai sejahtera), tetapi juga melambangkan kemakmuran, kehidupan dan rezeki yang melimpah. Atau dengan kata lain sebuah keadaan untuk memaksimalkan semua usaha akan berubah menjadi lebih baik seiring waktu berjalan dan menjadikan kita selalu berpikiran positif menatap langkah ke depan.

PAMOR WINIH, adalah pamor yang terletak di bagian gonjo. Bentuknya berupa bulatan berlapis-lapis, paling sedikit tiga lapisan, semacam “mata kayu”. Pamor winih tergolong baik dan dicari orang, karena konon jika ia memulai suatu pekerjaan atau tugas akan bisa selesai dengan baik. Kata ‘winih’ berasal dari sari kata bahasa Jawa yang berarti benih atau bibit. Seperti pada salah satu bagian gonjo sengkelat ini terdapat 6 (enam) bulatan berjajar di sepanjang sisi gonjo.

pamor-winih winih-pamor

PAMOR ASIHAN, bukan nama pola gambaran sebuah pamor, melainkan sebutan bagi keadaan atau kondisi gambaran pamor, yang garis-garisnya menyambung antara yang ada di bilah dan yang ada di bagian gonjo. Jadi, seandainya motif pamor itu sebuah lingkaran seperti pada bilah ini, separoh lingkaran itu tergambar pada permukaan bilah keris, sedangkan separoh sisanya pada bagian gonjo.

Penyebutan pamor asihan tidak berdiri sendiri melainkan selalu disebut bersama dengan pamor lain yang lebih dominan. Misalnya pada keris ini yang berpamor beras wutah yang merupakan pamor asihan, penyebutannya menjadi pamor beras wutah asihan. Oleh sebagian pecinta keris, pamor asihan dinilai baik sebagai pendongkrak kharisma. Pamor ini tidak memilih karena cocok dimiliki siapapun. Sebagian pecinta keris yang lain menganggap pamor asihan memiliki tuah yang biasa digunakan untuk memikat lawan jenis.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

2 thoughts on “Sengkelat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *