Pendok Perak Krawangan Patrem

Harga : 1,500,000,- (TERJUAL) Tn. MAY Sidoarjo


  pendok-patrem pendok-lungka-singo-banteng pendok-dengan-inisial
  1. Perabot : Pendok
  2. Model : Bunton Krawang Templek Patrem Yogyakarta
  3. Motif :  Semen Lungka Harimau Kerbau (banteng)
  4. Bahan : Perak
  5. Dimensi : Panjang 26 cm, diameter atas 3,5 cm bawah 2 cm, berat 70 gr
  6. Keterangan Lain : kondisi lamen, terawat, utuh tanpa potongan, langka kolektor item

Ulasan :
PENDOK KRAWANGAN, Menyerupai pendok bunton, tetapi bagian depannya dihias dengan ukiran pahatan yang berlubang-lubang. Banyak dipakai untuk warangka dari Surakarta dan Yogyakarta dan lebih mahal harganya.
 
FILOSOFI, di Indonesia permainan mematikan seperti gladiator ternyata juga ada. Dalam catatan Thomas Raffles, sejak jaman kunjungan pertama pejabat VOC ke istana Mataram di Kartasura pertandingan antara kerbau liar dan harimau (rampogan) menjadi hiburan pilihan yang digelar para Raja Jawa dan menjadi kesukaan para tamu keraton Jawa utamanya orang Eropa dan rakyatnya selama berabad-abad. Di ndalem keraton, mungkin hanya ada tabuhan gamelan dengan irama yang syahdu dan pertunjukkan tari adiluhung, namun di alun-alun ada darah dan keberanian. Harimau akan diadu dengan kerbau liar hingga salah satu atau keduanya sama-sama mati. Tidak ada yang tahu kapan persisnya Rampogan Macan berlangsung di tanah Jawa. Namun, dugaan sementara menyebut bahwa tradisi ini sudah ada sejak kerajaan Hindu dan Buddha seperti Majapahit dan Singasari. Namun, tradisi ini benar-benar masih hidup di abad ke-18 hingga 19.
Rampog atau Rampog Macam memiliki arti berebut (menombak). Penamaan ini didasarkan pada ending permainan menyeramkan ini. Pada event tertentu seperti perayaan hari besar agama, acara ini dilakukan di alun-alun secara terbuka. Para pembesar kerajaan seperti Raja, para keluarganya dan para pengageng akan duduk menonton dari atas panggung. Selain itu, para Gubernur Jenderal Belanda beserta anak buahnya juga diundang sebagai tamu kehormatan. Rakyat jelata atau pedagang biasanya melihat di pinggiran alun-alun (membentuk lingkaran) dengan membawa tombak. Awalnya, macan akan dilepas dari kandangnya, hewan buas ini akan diadu dengan kerbau liar yang sangat besar dan memiliki tanduk runcing. Jika  harimau kalah, dia akan tercabik oleh tanduk hingga kehabisan darah dan mati. Namun jikalau harimau menang, dia akan dibunuh dengan beramai-ramai oleh semua orang dengan tombak.
 –
Dalam nilai simbolisme makna sebenarnya merupakan sindiran kepada VOC, Sang Kerbau – lamban, stabil namun pada akhirnya tidak bisa dihancurkan; mewakili orang Jawa pada umumnya. Sedangkan Sang Harimau – dengan temparemen panas dan mempunyai kecenderungan untuk menyerang secara liar membabi buta; mewakili orang Eropa. Pertunjukkan ini merupakan simbol perlawanan pribumi terhadap bangsa asing. Bergenerasi-generasi Pejabat Belanda yang berpakaian hitam bertepuk tangan dengan puas dari panggung penonton ketika harimau dilemparkan kerbau ke udara dengan luka tusuk tanduk yang fatal di perutnya, sama sekali tidak paham mengapa orang-orang Jawa di sekitar mereka tersenyum begitu lebar.
pendok-lungka img_20161127_063628
Pemilihan bahan pendok biasanya tergantung kemampuan ekonomi si pemilik keris. Bagi mereka yang mampu tentu saja bahan dari emas dan perak menjadi pilihan utama, bahkan kadang masih pula dihias dengan batu permata intan, mirah, zamrud dan lain-lain. Sisi  muka atau depan pendhok biasanya diberi ukir-ukiran dengan pahatan berpola tumbuhan dan hewan. Tanaman menjalar dan bunga-bunga tersebut distilirkan sedemikian rupa sehingga serasi dengan bentuk pendhok yang pipih meruncing. Begitu pula dengan bentuk hewan, misalnya pada bentuk pendok ini harimau dan kerbau liar distilirkan dan digubah bersama pola tumbuhan sehingga menjadi ornamen semen lungka yang indah. Nama semen berasal dari kata semian, yakni tunas muda yang bersemi, bukan dari kata semen (english: cement) bahan bangunan.
Selain tujuan estetis, pola hias pendhok kadang-kadang dibuat untuk kepentingan simbolis, misalnya untuk tanda status sosial, kronogram (candra sengkala) dan pemilikan. Karena itu, sering dijumpai pendhok yang permukaan belakangnya diberi tanda tertentu, misalnya lambang keraton, huruf Jawa atau Latin yang distilirkan atau angka tahun. Atau dapat dilihat pada pendok ini selain diberi inisial “HS” dalam huruf Jawa juga dihiasai ornamen Kala Bintulu (Kala bermata satu) pada ujung belakangnya, sebagai simbol kewaskitaan.
 inisial-jawa-pada-pendok motif-kala-bintulu
Ditawarkan sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
 

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.