Keris Tindih Sombro Pamor Tambal

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 6,660,000,- (TERMAHAR) Tn. BR Cilegon


 keris-sombro-griyokulo keris-sombro
  1. Kode : GKO-198
  2. Dhapur : Sombro
  3. Pamor : Tambal
  4. Tangguh : Madura Sepuh Abad XIII
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 639/MP.TMII/XI/2016
  6. Asal-usul Pusaka : Rawatan/Warisan Turun Temurun
  7. Keterangan Lain : Kolektor Item

foto-sombro sertifikasi-sombro 

Ulasan :

SOMBRO, sebenarnya adalah bukan nama salah satu dhapur keris. Penyebutan nama dhapur Sombro untuk keris dengan bilah pendek (sejengkal) dengan ricikan pejetan atau blumbangan dangkal adalah sebutan salah kaprah berjamaah, yang lebih familiar di telinga banyak orang, sehingga dianggap benar. Sama halnya dengan keris Umyang, Sombro sebenarnya adalah nama seorang Empu Wanita. Keris buatannya semuanya lurus, paling banyak berdhapur brojol, tak ada yang memakai luk; Penampilan kerisnya sederhana dan cenderung  agak wagu (tidak cantik), besinya pun tergolong pilihan, padat dan tempaannya matang. Banyak diantaranya tergolong ganja iras (ganja menyatu dengan wilah). Bobot isoteri-nyapun berbicara dengan sendirinya melalui penampilan guwaya-nya, tak heran keris ini mempunyai penggemar fanatiknya sendiri hingga ke manca negara.

Menurut pitutur yang tersebar di masyarakat perkerisan di Pulau jawa, Empu Ni Mbok Sombro mempunyai cara yang khas dalam menyepuh (quenching) keris-keris buatannya. Konon, bila keris telah selesai dibuat dan akan disepuh, dibakar hingga memerah pijar, kemudian bilah membara itu dijepit diantara kemaluannya. Cara ini disebut sepuh wewadi. Dalam bahasa Jawa, wewadi adalah kata padanan untuk alat kelamin, juga bisa diartikan hal yang dirahasiakan. Konon pula, saking saktinya, dikatakan Empu Sombro ini jika membuat keris tanpa perapian, tanpa pande dan membuat keris hanya dengan dipijit, sehingga karyanya itu dikenal terdapat lekukan-lekukan seolah bekas pijitan tangan.

KERIS TINDIH, sebutan bagi keris yang dianggap mempunyai tuah yang baik bagi para kolektor tosan aji. Di kalangan para koletor tosan aji, sering ada anggapan bahwa diantara keris koleksinya mungkin ada yang tidak cocok dengan dirinya atau mempunyai pengaruh (tuah) kurang baik. Walau demikian, ia merasa sayang untuk melarung atau memaharkan. Untuk menetralkan atau menangkal pengaruh negatif atau kurang baik dari keris-keris tersebut, biasanya para kolektor memiliki apa yang dinamakan keris tindih. Keris ini dipercaya mempunyai kekuatan yang dapat meredam segala pengaruh buruk dari keris lain yang ditakutkan berimbas negatif, baik bagi pemiliknya maupun keluarga sekitarnya. Dengan memiliki satu atau beberapa buah keris tindih, dipercayai akan memberikan ruang nyaman dan sisi yang lebih aman bagi sang pemilik.

Keris-keris yang diangap sebagai keris tindih pada umumnya adalah tangguh tua, kebanyakan sebelum jaman Majapahit, tetapi dhapur keris tidak mutlak dijadikan pertimbangan untuk menentukan apakah sebilah keris dapat dianggap sebagai keris tindih atau tidak, karena dhapur Tilam Upih pun jika diyakini itu benar-benar Tangguh Sepuh, layak dianggap sebagai keris tindih. Keris Tindih hampir selalu diberi warangka sandang walikat, sebagian kecil diberi warangka gayaman, dan hampir tidak pernah ada keris tindih diberi warangka ladrang atau branggah. Dan dalam tempat penyimpanannya pun, umpamanya di gedong pusaka, biasanya keris yang dianggap sebagai keris tindih ditempatkan di bagian paling atas.

sor-soran-sombro ujung-sombro

TENTANG TANGGUH, Keris Sombro ini tergolong agak berbeda dengan jenis Sombro yang beredar di masyarakat perkerisan, bilahnya agak tebal hampir seperti keris normal, karena keris ini dipastikan bukanlah hasil rekayasa dari pedang-pedang bekas atau keris yang ujungnya aus dirubah menjadi keris Sombro. Dari penampakan fisik mata, tampak besi malela-nya madas (membatu), keras, terlihat berserat lipatan-lipatannya yang memang agak berbeda dengan besi tangguh pajajaran atau tuban pada umumnya. Apabila disentil juga terdengar nyaring, pertanda rapat matang tempa.  Condong leleh agak miring dan wagu. Penampang gonjo menunjukkan tidak pipih atau tipis, melainkan normal seperti ketebalan keris-keris umumnya, dengan sirah cecak melengkung bulat (buweng) lebih masuk ciri keris tangguh pajajaran atau tuban, berbeda dengan keris madura sepuh yang kebanyakan sirah cecak-nya runcing agak panjang.

sirah-cecak-buweng
PAMOR TAMBAL, sama halnya rajah gambar dan tulisan yang digoreskan pada pusaka, pamor tambal pada sebilah keris, tombak atau pedang bisa dikatakan merupakan bentuk inskripsi lain. Dalam hal memaknai pamor Tambal, tentu saja kondisi tataran spritual pemilik menjadi faktor dominan yang melatar-belakang kenapa dan bagaimananya?

Pamor Tambal dipahami oleh banyak orang mempunyai tujuan khusus untuk menambal dan menyempurnakan kekurangan yang ada hingga memperbaiki sesuatu yang rusak. Pamor Tambal dapat juga mengandung arti akan adanya sebuah ikhtiar untuk mewujudkan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Sebuah perlambang bahwa kita manusia sadar sebagai hamba yang penuh ketidaksempurnaan. Dalam kerendahan hati memohon agar setiap celah kelemahan dan kekurangan kita akan ditambal oleh Sang Penata Kehidupan dan berharap segala sesuatunya ditutup sesuai rancangan-Nya.

Ditinjau dari sisi perencanaan, penambahan pamor tertentu (pamor tambal) pada tosan aji dibedakan menjadi dua type, yakni yang pertama penambahan pamor sudah direncanakan saat tosan aji tersebut akan dibuat (rekan asli). Dan yang kedua penambahan pamor baru dilakukan saat tosan aji tersebut sudah selesai dibuat (susulan). Bahkan jika mengacu pada kurun waktu, maka penambahan tersebut bisa dilakukan berabad kemudian dari sejak tosan aji selesai dibuat hingga diwariskan turun-temurun (beda zaman/tangguh). Seperti Pamor Tambal pada keris Sombro ini, Penulis menduga ditorehkan pada jaman yang lebih muda (Mataram akhir?) karena jenis pamor dan karakter besi yang digunakan sudah berbeda dengan material dasarnya. Bagi kalangan penganut paham eksoteri penambahan pamor tambal susulan belum tentu akan disukai, tetapi bagi para pemburu isoteri akan memiliki value lebih.

Dari gambaran pamor dasar pada bilah, tampak menyerupai deretan garis yang membujur dari pangkal hingga ujung keris, seperti rambut lurus yang terurai. Seringkali garis-garis itu bukan garis yang utuh, melainkan terputus-putus. Pamor seperti ini sering disebut  Pamor Mrambut. Tuah pamor ini dipercaya adalah untuk menangkal sesuatu yang tidak diingini atau menolak bala. Pamor ini tergolong pemilih, sebab tidak setiap orang akan cocok bila memilikinya.

gandik-sombro pucukan-sombro

Pandangan selanjutnya tertuju pada pamor tambal yang disusulkan, diantaranya yang dapat terbaca oleh penulis adalah tampilan pamor miring yang mirip toya mambeg atau banyu mambeg, artinya air yang berhenti (tidak mengalir) hampir mirip dengan pamor tumpuk, jika pamor tumpuk garisnya melintang lurus, pamor toya mambeg lebih bergelombak mirip ombak bersusun. Dipercaya tuah pamor ini baik untuk membantu orang menumpuk kekayaan dan menghindari ketidakberuntungan (kesialan) yang mengakibatkan banyak pengeluaran tak terduga atau yang tidak perlu. Juga maksudnya rejeki yang telah didapat tidak mudah mengalir keluar lagi (cepat abis).

Kris is both metal and a meaning. Lewat psychology of seeing, akan dapat dipahami bahwa sebilah keris bukan hanya obyek pasif. Ada cara lain dalam melihat “sesuatu” di dalamnya. Cara yang tidak sama seperti kamera memotret sebuah obyek diam maupun bergerak. Realitas bukan sesuatu yang hanya obyektif berada di luar. Keris bukan hanya terdiri dari besi atau bahkan baja dan pamor. Keris adalah sebuah realitas. Realitas terdiri dari hal yang dialami, yang diketahui dan dimengerti. Oleh sebab itu realitas bisa sangat subyektif. Pengalaman, pengetahuan dan pengertian setiap orang bisa berbeda antara satu dengan lainnya. Seperti halnya mitos serta kepercayaan mengenai Keris Sombro sebagai keris tindih yang mumpuni selain jalak atau betok kabudhan. Di masyarakat Jawa bagian Timur Keris Sombro dianggap pasangan keris umyang jimbe (putut kembar) yang pemilih, juga sebagai peredam aura “usil “dhapur Condong Campur, hingga menetralkan kesialan pamor buntel mayit dan masih banyak lagi kepercayaan lokal lainnya seputar keris Sombro. Pada akhirnya Keris Sombro bukanlah keris senjata fisik, melainkan senjata spiritual.

warangka-sombro

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *