Naga Siluman

sold-outMAHAR : Rp. 4.499.000,- (TERMAHAR)


keris nogo silumankeris naga siluman

naga silumannogo siluman

  1. Kode : GKO-27
  2. Dhapur : Naga Siluman
  3. Pamor : Beras Wutah
  4. Tangguh : Mataram (Bagelen) Abad XVII
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 77/MP.TMII/IV/2015
  6. Asal-usul Pusaka : Yogyakarta
  7. Warangka : Kayu Gaharu Wangi
  8. Deder : Tayuman Lamen
  9. Mendak : Krawangan Lapis Emas Lamen
  10. Pendok : Blewah Krawangan Lapis Emas

Ulasan :

naga siluman sertifkasinogo siluman bagelen
Seluman atau siluman dalam bahasa sansekerta berarti khayalan (penglihatan), yaitu bayangan yang dibangkitkan oleh kekuatan magis. Pengertian lainnya adalah maniluman yang artinya bersifat magis, mempesonakan. Maka pengertian naga siluman secara harafiah dapat diartikan sebagai naga yang tidak kelihatan atau naga yang ada dalam alam khayal (gaib dan mistis), namun membangkitkan kekuatan magis yang mempesona dan kharismatik. Dhapur naga siluman tergolong langka, dan pada jaman dahulu banyak dipakai oleh tokoh agama atau orang-orang yang suka mendalami dunia spiritual.
 
sumping naga sisik naga sisik nogo
                                      (gb. foto makro kinatah sumping dan sisiknya pada stilasi naga)
Kepala naga mengenakan mahkota, sumping serta kalung dan badan naga yang digarap sedikit tersamar yang kemudian menghilang pada luk pertama adalah sebagai himbauan supaya manusia menjalani hidup dengan mengendalikan hawa nafsu berupa kekuasaan, kemewahan atau jabatan. Makna simbolis ini dapat diartikan bahwa sebagai seorang pemimpin tidak boleh sewenang-wenang, karena apa yang ia miliki adalah sampiraning urip (titipan sementara). Mulut naga terbuka cukup lebar (kadang) disumpal butiran emas atau batu mulia ini dipercaya dapat meredam kekuatan negatif atau hawa panas dari tuah keris. Makna dibaliknya adalah manusia harus mampu mengendalikan kata-katanya. Masyarakat Jawa mengenal ungkapan yang berbunyi ajining diri soko kedaling lati “artinya kehormatan diri seseorang berasal dari ucapan atau kata-katanya.” Apabila dihubungkan dengan sifat-sifat kepemimpinan merupakan sabda yang tidak boleh berubah (sabda pandita ratu tan keno wola-wali). Dengan demikian kemulian seorang pemimpin adalah kemampuannya untuk menyelaraskan antara perkataan dengan perbuatan.
gandik nagamoncong naga
                            (gb. foto makro stilasi mulut naga)
 
Deder Kayu Tayuman
Boleh dikatakan deder kayu tayuman adalah favorit sebagian besar pecinta keris. Keras dan padat tapi mudah dibentuk, serat kayu dan warna tekstur yang indah, semua persyaratan untuk pembuatan sebuah ukiran dipenuhi oleh jenis kayu yang kini mulai langka. Karena tingginya sebuah harga ukiran kayu tayuman kadang-kadang beberapa penjual berusaha menyarukan ukiran dari bahan kayu bukan tayuman. Terkadang penyaruanya sedemikan rupa sehingga orang awam akan mudah terkecoh. Salah satu cara yang mudah untuk menandai sebuah ukiran kayu tayuman adalah dengan memperkirakan bobotnya (Harsrinuksmo Bambang, Ensiklopedi Keris, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2004). Kayu Tayuman cukup berat dan tinggi berat jenisnya, sehingga akan tenggelam bila direndam di dalam air. Bila tenggelamnya tidak dalam posisi rata dan datar, ukiran yang dikatakan terbuat dari kayu Tayuman patut dicurigai. Apalagi bila setelah ukiran itu tenggelam bagian bungkul (pantat) melayang ke atas. Ukiran yang demikian biasanya bukan terbuat dari kayu Tayuman, namun bagian dasar lubang pesinya diisi dengan timah (timbal) atau potongan paku. Selain memang kualitasnya sebagai bahan pembuat ukiran baik, kayu Tayuman dinggap memiliki daya magis atau tuah yang dapat “memelihara” isi keris.
 deder kayu tayuman solo deder tayuman solo
Tangguh Mataram Bagelen
Sebagai informasi, dalam peta kekuasaan Kasultanan Yogyakarta pasca perjanjian Giyanti (1755), maka wilayah kesultanan Yogyakarta meliputi :
1. Nagara, yakni kota tempat kedudukan Raja atau Sultan ialah kota Ngayogyakarta Adiningrat
2. Nagara Agung, ialah daerah-daerah di sekitar ibukota Ngayogyakarta Adiningrat. Daerah ini meliputi antara lain : Pajang, Sukawati, Bagelen, Kedu, Bumigede (Banyumas), Ungaran dan Kedung Jati.
3. Mancanagara, ialah daerah-daerah diluar garis batas Nagara Agung, daerah ini meliputi antara lain : Madiun, Magetan, Caruban, separuh Pacitan, Kertasana, Ngrawa (Tulungagung), Japan (Mojokerto), Jipang (Banjarnegara), Teras, Karas, Sela, Warung, Kuwu, Wirosari dan Grobogan.
 
Dan sejak adanya perjanjian Giyanti ini, personil dan sistem persenjataan dibatasi sedemikian rupa, oleh Pemerintahan Hindia Belanda, sehingga Keraton tidak mungkin lagi untuk melakukan gerakan militer. Hal ini membuat para Mpu senjata berkurang karyanya. Mereka hanya dibatasi membuat senjata untuk kepentingan Raja. Seniman, perajin, dan Mpu Keris akhirnya banyak yang berdomisili dan membuat karya diluar Kraton. Sebagai informasi, Bagelen meliputi wilayah Purworejo, Kebumen, sebagian Wonosobo dan Kutoarjo, dahulu kala lembah subur Bagelen adalah penyangga utama dari produksi beras di Mataram. Keris Bagelen luknya tidak serengkol Mataram, Keris Baggelen kurang memperhatikan estetika Pamor. Bahan pamor yang dipakai tidaklah sebagus bahan pamor Mataram, atau bahkan pamor yang keluar merupakan hasil wasuhan besi. Gradasi warna antara besi dan pamor tidak begitu kontras atau biasa disebut nyanak.
pamor nyanakpamor sanak
                                           (pamor sanak)
 
Keris Naga ini semakin menunjukkan kelasnya dengan sandangan warangka gayaman solo terbuat dari kayu gaharu wangi, lengkap dengan mendak dan pendok blewah krawangan lapis emas. Cocok bagi Anda yang menginginkan koleksi dhapur naga dengan mahar terjangkau.
 

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *